Mengapa Hanya Saya yang Bekerja?


Rainy Roof Stroll IV

Ungkapan ini akan sering kau temui pada mereka yang ingin mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Keinginan yang besar dan mulia. Tapi tanpa pengetahuan yang tepat, yang terjadi bisa jadi malah sebaliknya.

Yang sebelumnya ingin melakukan perubahan bisa menjadi yang paling pesimis, malas dan tak lagi antusias. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mengapa kalimat di atas terucap?

Hari ini, Sabtu, 10 Oktober 2015, dalam sebuah acara Bina Qolam, yayasan yang ingin memajukan dunia penulisan Islam, judul di atas terucap. Seorang ibu mengiyakan fakta yang disampaikan narasumber, bahwa minat baca di Indonesia sangat rendah.

Ia yang berprofesi sebagai seorang guru merasa sedih dengan fakta itu. Ia ingin mengubah kondisi murid-muridnya menjadi lebih baik. Ia ingin agar mereka memilki minat baca yang tinggi. Ia sudah mencoba, tapi ia merasa sendirian. Murid-muridnya dan guru selain dia tidak tergerak.

Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Aku sangat ingin memperbaiki timku. Aku mencoba menyediakan pelatihan-pelatihan, bahan bacaan dan bedah buku. Tapi aku merasa sepertinya hanya aku yang menginginkan hal itu.

Dan itu benar. Memang hanya aku yang menginginkan perubahan. Dan itu juga yang salah dalam memulai perubahan. Bila kau memulai perubahan dengan aksi perubahan, seperti memulai program pelatihan tertentu, memecat pegawai yang kau anggap menghambat dan sebagainya, kau sudah salah tahap.

Bila program yang kau mulai itu kelihatan berhasil dan berjalan, sebenarnya itu hanya kelihatannya saja. Beberapa lama kemudian kau akan menyaksikan mereka akan kembali pada kebiasaan semula. Tidak ada perubahan.

Apa yang salah? Salahnya adalah karena kau belum menciptakan suasana darurat. Mereka yang kau harapkan berubah masih merasa nyaman. “Toh dengan begini saja masih bisa jalan kok, kenapa harus berubah?” Itulah yang ada dalam benak mereka.

Dan bila suasana keharusan berubah ini lemah, tidak akan ada dukungan dengan perubahan yang kau bayangkan. Dan tanpa ada dukungan, hasilnya adalah capek. Hanya kau saja yang bekerja. Karena memang hanya kau yang merasakan keharusan untuk berubah.

Maka apapun bentuk perubahan itu, kau harus lebih dulu meningkatkan tingkat kedaruratan untuk berubah. Buat mereka yakin bahwa perubahan ini harus segera dilakukan. Caranya? Bisa dengan poster, seminar, membedah buku, menghilangkan fasilitas yang melenakan dan sebagainya. Sadarkan mereka bahwa kita dalam kondisi berbahaya dan harus segera berubah.

Banyak yang melewati tahap ini. Karena tahap ini sering dianggap tidak produktif, tidak memberi dampak nyata yang mereka harapkan. Tapi dengan melewati tahap ini justru perubahan itu yang menjadi tak produktif. Karena dukungan terhadap perubahan yang kau usung masih lemah. Dan apapun yang kau lakukan selanjutnya, itu hanya sekedar jalan. Tak ada semangat di dalamnya.

Masih ada tujuh tahapan lagi dalam memulai sebuah perubahan. Tapi inilah dasar perubahan. Kegagalan dalam tujuh tahapan berikutnya biasanya disebabkan kurangnya tahapan awal ini.

Sekarang, bila kau ingin murid dan guru-guru di sekolahmu memiliki minat baca yang tinggi, mulailah dengan meyakinkan mereka kenapa mereka harus berubah. Bila kau ingin tim di tempat kerjamu berubah, yakinkan mereka betapa bahayanya bila mereka tidak berubah. Masih tetap ingin menjadi agent of change? Wallahu a’lam.

Inspirasi dari buku Leading Change.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s