Ukhuwah yang Konyol atau Logika yang ‘Gak Nyandak


Sebuah mahfudzot sederhana "rubba akhin lam yalidhu waalidatan – betapa banyak saudara itu tidak dilahirkan oleh satu ibu". Sebuah kata "akh" yang menjadi dasar dari kata ukhuwah membuatku lama merenung.

Dalam buku Basic Economics, ada sebuah contoh bagus yang bisa menjelaskan apa itu ekonomi. Dalam sebuah pertempuran, ada beberapa prajurit terluka. Ada yang parah bila tidak dibantu ia akan mati. Ada juga yang bila dibantu kemungkinan besar segera sembuh dan mampu kembali berjuang.

Pun ada yang diberi bantuan medis atau tidak, kecil kemungkinan hidupnya. Dan ada pula yang tidak dibantu sekalipun akan tetap bertahan. Bantuan medis sangat terbatas tapi ia memiliki beberapa manfaat yang berbeda.

Kemampuan memanfaatkan sumberdaya yang terbatas (bantuan medis) untuk kegunaan yang berbeda (jenis prajurit yang terluka) inilah inti dari ekonomi.

Dalam contoh nyata, di sebuah perumahan yang berpenduduk 100 KK sementara ini ada satu penjual air mineral. Menurut ilmu ekonomi sah saja bila ada orang yang punya modal besar ikut bersaing. Ia bisa ikut berbisnis air mineral dalam volume yang lebih besar sehingga harga jualnya lebih murah.

Hal ini akan menguntungkan masyarakat secara umum. Atau dengan kata lain bila ada persaingan seperti di atas yang diuntungkan adalah masyarakat di perumahan secara keseluruhan karena harga air mineral akan lebih murah. Itulah ilmu ekonomi pasar bebas (free market).

Tapi kemudian aku juga teringat sebuah kisah terlukanya tiga orang tentara dalam sebuah peperangan. Saat bantuan datang ke tentara 1, yang bersangkutan malah ingin agar bantuan itu dibawa ke tentara 2 yang menurutnya jauh lebih membutuhkan.

Saat bantuan datang ke tentara 2, ia malah ingin agar bantuan itu diberikan ke tentara 3. Dan saat bantuan datang ke tentara 3, ia malah telah meninggal. Saat bantuan kembali diantar ke tentara 1 dan 2, mereka berdua juga sudah meninggal.

Bagi ilmu ekonomi ini aneh atau lebih tepatnya konyol. Tapi inilah kisah tentang tingkat ukhuwah paling tinggi yang dikenal dengan itsar. Dan inilah ajaran Rasulullah saw yang diwariskan kepadaku dan kepadamu.

Bagi ilmu ekonomi pasar bebas persaingan itu akan menguntungkan masyarakat secara umum karena akan menurunkan harga. Tapi sebuah anjuran Islam yang menunjukkan agar seorang pedagang bila telah mendapatkan untung untuk membagi pelanggannya dengan saudaranya yang belum mendapat pelanggan.

Secara akal, tentu saja ini tidak masuk akal. Tapi tunggu dulu. Sebagaimana kejadian hujan yang dikisahkan dalam Quran tidak masuk akal bagi orang dulu, semua itu masuk akal bagi kita sekarang. Maka jangan-jangan ukhuwah dengan itsar-nya yang menurut kita tidak masuk akal sekarang, malah akan menjadi jalan bisnis yang paling menguntungkan yang pernah dipraktekkan manusia.

Tidak bisa kubayangkan, sebuah sistem sosial dan ekonomi berdasarkan persaudaraan karena iman. Allah swt sudah menetapkan bahwa orang yang beriman satu sama lain itu bersaudara. Rasulullah saw juga mengajarkan bahwa tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai saudaranya muslim sebagaimana ia mencintai dirinya.

Dan Allah tetap akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Kawan, ukhuwah ini benar-benar di luar batas kewajaran manusia biasa. Pantaslah bila ia hanya dimiliki oleh orang yang beriman. Dan ingat, orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak takut dan khawatir dengan urusan dunia. Jangan-jangan bukan ukhuwahnya yang konyol, tapi pikiranku saja yang ‘gak ‘nyandak. Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s