Obatilah Kemarahan dengan Diam


Kawan, kau mungkin sudah banyak tahu bagaimana Rasulullah Muhammad saw menyampaikan tentang marah. “Jangan marah, jangan marah, jangan marah, bagimu surga.” Ini sudah pasti memberimu gambaran betapa susahnya menahan marah. Karena mana mungkin surga berharga murah.

Menurutku, sekarang ini aku bukanlah orang yang sering marah. Dan marahku bukan marah yang mengeluarkan kata-kata. Karena aku pernah mengalaminya, marah lalu kuluapkan marah itu dengan kata-kata. Hasilnya? Aku kemudian menyesal dengan apa yang kusampaikan.

Aku pernah mengalami marah dengan berkata-kata yang menyakitkan. Setelah itu aku belajar mengendalikan marah. Caranya? Dengan diam. Dan diamnya tidak sekedar diam tidak melakukan apapun. Dalam diam itu, alu seringkali ngobrol dengan diriku.

Aku bertanya, apa iya aku marah? Lalu aku bertanya lagi kenapa aku marah? Apakah itu karena aku merasa direndahkan (ego), atau karena harapanku yang terlalu tinggi terhadap sesuatu yang saat tidak tercapai membuatku kecewa. Intinya aku dalam diam itu aku harus mencari tahu kenapa aku merasa marah.

Sebagai contoh, aku pernah merasa marah saat tahu temanku bekerja tak sesuai harapanku. Padahal menurutku, ia sudah dipersiapkan dan dibekali dalam melaksanakan tugas. Waktu itu aku belum bisa mengontrol emosi. Maka muncullah kata-kata pedas dan menusuk. Aku pun merasa tidak enak setelahnya.

Dan anehnya setelah kejadian itu berlalu aku berusaha untuk memperdalam pengetahuanku soal tugas temanku itu. Yang pada akhirnya aku merasa bahwa memang tugasnya sangat berat. Dan aku merasa bisa memaklumi kekurangannya. Meskipun aku tidak bisa lagi.mencabut kata-kataku.

Contoh marahku yang lain adalah saat aku harus memegang prinsip. Aku marah saat orang lain ingin agar aku melanggar prinsip. Seperti saat ada yang memintaku membeli sesuatu yang aku tak mampu sehingga harus melibatkan bunga bank.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan prinsip ini. Tapi ini adalah prinsipku. Maka, saat itu, yang bisa kulakukan hanya diam menjaga lisan agar tidak mengeluarkan kata-kata yang aku tahu nanti pasti kusesali. Aku menghindar dulu. aku butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri.

Aku sholat, setelahnya, rasa marah itu sedikit demi sedikit mereda. Dan akupun bisa memaklumi permintaan yang membuatku marah sebelumnya, meski tetap tak akan kulanggar prinsipku. Artinya aku hanya bisa memahami bagaimana seseorang bisa memaksaku untuk berhubungan dengan bunga bank. Aku memahami keinginannya, kebutuhannya.

Jadi menurutku kesimpulan dalam marah adalah bahwa pengetahuan itu penting. Bila kau lebih banyak tahu, kau akan jarang marah. Maka bila kau merasa ada rasa marah, jangan-jangan ada pengetahuan yang tak kau kuasai. Yang kedua, kadang memang harus marah. tapi itu tidak harus membuatmu mengucapkan kata kasar, berbuat kasar pada orang lain. Diamlah, tenangkan diri terlebih dahulu. Cari tahu apa yang membuatmu marah.

Ini pengalamanku soal marah. Bagaimana dengan dirimu Kawan?

Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s