Ternyata, Tidak Belajar Itu Enak Juga


Ya, ternyata tidak belajar, santai itu menyenangkan. Jadi tidak heran kalau banyak orang melakukannya. Menghabiskan waktu luang dengan berleha-leha dan santai memang asyik.

Aku dulu membayangkan menikmati malam tanpa belajar pasti tidak enak. Ada rasa bahwa usia habis tanpa ada tambahan ilmu pasti sangat merugikan. Dan siapa mau menjadi seseorang yang merugi? Banyak. Ternyata banyak orang merugi dengan sukarela.

Aku selama satu bulan lebih melakukannya. Sejak akhir Desember 2015 hingga awal Februari 2016 aku menikmati malam dan hari libur tanpa membaca buku, tanpa menulis dan tanpa berpikir mendalam. Apa yang kulakukan? Bermain game.

Bila dulu bermain game hanya bisa dilakukan dengan laptop, kini, game bisa dilakukan dengan hape. Modal internet pun sangat terjangkau. Maka, cocok sudah kesempatan untuk bersantai bermain game.

Dan setelah bermain beberapa lama, tak sadar hampir setiap malam, minimal satu jam aku luangkan waktu bermain game. Dan ketika aku bermain game, mana mungkin aku bisa berkonsentrasi dengan yang lain? Otak rasanya sudah lelah setelah aktifitas seharian ditambah game di malamnya.

Dan setelah bangun, sholat Shubuh, tilawah, lagi-lagi otakku selalu muncul bayangan game yang kumainkan. Karakter pahlawanku sudah level berapa? Kemampuannya sudah apa saja? Prajuritku sudah secanggih apa? Pertanyaan itu langsung menyergap. Padahal biasanya pagi hari yang menyegarkan kugunakan untuk menulis.

Maka, praktis tidak ada karya yang muncul selama satu bulan terakhir. Setiap waktu luang kugunakan untuk menengok bagaimana karakter pahlawanku. Padahal tantangan di dunia nyata tidak kalah menegangkan. Ada banyak perubahan di tempat kerjaku. Tapi itu semua hilang saat membuka hape, menekan tombol.aplikasi game.

Lalu, bagaimana kesadaran belajar muncul lagi? Ya dari berpikir. Ketika ada waktu luang yang muncul kugunakan untuk berpikir bahwa waktu ini terbatas, bahwa usia itu pasti ada akhirnya, keinginan belajar itu muncul lagi.

Tak mudah memang. Tarikan bersantai cepat datang. Pikiran soal waktu dan usia harus sering datang untuk melawan keinginan bersantai. Waktu, tubuh, dan segala nikmat yang bisa kugunakan tidak abadi. Semua nikmat itu juga akan ditanyakan nantinya. Maka pikiran-pikiran ini yang berulang kali menyelamatkan aku dari santai dan berleha.

Semoga kau berhasil melewati ujian waktu luang. Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s