Dua Manfaat Belajar Bahasa Tubuh yang Sering Tak Disadari


Ketika belajar soal body language atau bahasa tubuh aku tidak mengira manfaatnya bakal seperti ini. Awalnya aku membayangkan ketika tahu bahasa tubuh, aku bisa lebih banyak tahu apa sebenarnya yang disampaikan kepadaku.

Karena manusia, terutama yang bernama wanita sangat susah dipahami. Apa yang disampaikan sering tidak sama dengan yang dimaksudkan. Yang dimaksudkan hanya bisa dilihat dari bahasa tubuh dan diketahui dari tinggi rendah nada suara. Karena telingaku bermasalah sejak kecil, bahasa tubuh jadi alternatif pilihan utama.

Manfaat lain yang terbayang adalah agar aku tidak mudah dibohongi. Aku memang orang yang tidak mudah percaya. Tapi tetap saja dibohongi itu tidak enak. Makanya, ketika tahu bahasa tubuh, aku bisa menjaga diri dari kebohongan orang lain.

Nah, ternyata ada dua manfaat lain yang baru kusadari setelah mempraktekkan pengetahuan bahasa tubuh dalam aktivitas sehari-hari. Yang pertama, aku bisa tahu emosi apa yang sedang kurasakan. Yang kedua, aku bisa merubah kondisi emosi tersebut.

Dalam bahasa tubuh, emosi atau respon tergambar oleh anggota tubuh. Ekspresi wajah, gerakan tangan, kaki semua bisa menjadi pertanda emosi seseorang. Maka bila secara tidak sadar aku marah, aku bisa melihat posisi anggota tubuhku. Lalu aku bisa meraba, apakah aku sedang marah, sedih, kecewa atau bahagia. Lalu aku bisa mencari tahu lebih banyak, apa yang menyebabkan aku marah.

Jadi, dengan bahasa tubuh, kau bisa mengetahui lebih dalam tentang dirimu. Apa yang membuatmu marah, apa yang membuatmu sedih atau bahagia. Dan dengan pengetahuan itu kau bisa mengantisipasi emosi negatif apa yang mungkin terjadi. Atau dengan pengetahuan itu, kau bisa mengusahakan agar lebih banyak mendapatkan emosi positif atau rasa bahagia.

Manfaat kedua yang awalnya tidak terbayangkan dari memahami bahasa tubuh adalah bisa mengubah emosi negatif dengan mengubah anggota tubuh. Dulu, ketika rapat, secara tidak sadar aku menyilangkan tangan. Aku sedang tidak ingin mendengarkan pembicara di rapat itu.

Dalam bahasa tubuh, aku sedang dalam posisi defensif. Dengan posisi defensif, aku sedang tidak ingin menerima pendapat orang lain. Padahal, bisa jadi pendapat yang muncul dalam rapat itu sangat penting. Maka akan lebih baik bagiku untuk tidak.defensif.

Cara mengubah emosi? Cukup dengan mengubah posisi tangan. Yang sebelumnya menyilang harus diubah menjadi terbuka. Dan efeknya terasa. Secara tidak sadar aku bisa lebih menerima pendapat orang lain. Dan sampai kini aku masih melakukannya. Aku sekarang bisa lebih menerima perbedaan pendapat dibanding sebelumnya.

Itu dua manfaat yang tidak kusadari sebelumnya yang sangat bermanfaat bagiku. Kau sepertinya juga butuh ilmu ini. Sebagaimana sebuah mahfudzot, "Perilaku seseorang menggambarkan rahasianya." Wallahu a’lam.

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s