Kenapa Sampeyan Gagal?*


Sebesar apapun keinginan dan usaha yang telah sampeyan lakukan, kegagalan bisa terjadi. Sampeyan tidak tahu dengan pasti apa alasannya. Yang jelas sampeyan gagal. Dan seringnya sampeyan hanya bisa menyalahkan diri sendiri.

sampeyan tidak sendiri. Banyak orang tiap tahun baru menulis “resolusi tahun ini”. Judulnya bisa berhenti merokok, punya berat badan ideal dan lain sebagainya. Dan bagaimana akhir dari resolusi ini? Sebagian besarnya gagal.

Lalu kenapa banyak orang mengalamai kegagalan? Apakah mereka tidak tahu bagaimana cara meraih tujuan yang mereka inginkan? Tidak. Bukan itu alasannya.

Sebagian besar bahkan sudah tahu bagaimana cara meraih tujuan itu. Hanya saja, tahu dan melakukan itu berbeda. Artinya, mereka yang gagal seringkali tahu tapi tidak melakukan.

Lalu apa yang membedakan antara orang yang gagal dengan orang yang berhasil? Jawabannya sama dengan yang disampaikan oleh dai kondang kita almarhum KH. Zainuddin MZ bahwa intinya adalah pengendalian diri.

Orang-orang yang berhasil punya pengendalian diri yang kuat. Mereka bisa bertahan melakukan hal-hal yang sudah mereka rencanakan untuk meraih tujuan mereka.

Karena terkadang untuk meraih tujuan yang diinginkan ada hal-hal yang tidak kita sukai. Maka dengan pengendalian diri, orang akan tetap rela bertahan demi meraih tujuan.

Sebaliknya bagi yang sering gagal bukan berarti mereka tidak punya pengendalian diri. Mereka punya pengendalian diri. Hanya saja pengendalian diri mereka digunakan untuk hal-hal yang tidak mendukung dalam meraih tujuan mereka.

Lalu seperti apa pengendalian diri atau dalam bahasa Psikologi disebut self control ini? Tidak banyak diketahui orang, bahwa pengendalian diri ini hampir sama dengan otot dalam tubuh kita.

Ketika kita bekerja keras menggunakan otot, maka ia akan merasa capek. Begitu juga dengan pengendalian diri. Ketika kita banyak bekerja menggunakannya, maka ia juga akan merasa capek. Ketika capek maka kekuatannya untuk mengendalikan diri berkurang.

Dan saat melemah inilah saat yang paling rentan godaan, di sanalah semua kegagalan bermula. Semua ada waktunya. Ada waktunya untuk bekerja ada waktunya untuk beristirahat. Ada saatnya harus menggunakan pengendalian diri, ada juga waktunya untuk mengistirahatkannya.

Khusus soal diet, salah satu selebriti dunia, Oprah Winfrey mengatakan bahwa yang tidak disadari selama ini adalah, betapa tidak seimbangnya hidup yang ia jalani. Terlalu sering bekerja dan jarang bermain. Hal ini tidak seimbang.

Dan karena pengendalian dirinya sudah terkuras dalam bekerja, ia tidak lagi bisa mengontrol pola makan. Padahal ia sudah punya program diet yang luar biasa.

Ini adalah contoh yang sederhana. Bahwa semua orang punya pengendalian diri. Hanya saja kapan ia menggunakannya dan kapan ia mengistirahatkannya menentukan apakah ia berhasil atau gagal.

Kembali ke otot pengendalian diri. Sebagaimana otot dalam tubuh, sampeyan juga bisa melatih otot pengendalian diri. Semakin rutin sampeyan latih semakin baik dan kuat ia.

Bagaimana caranya? Sederhana. Bisa dimulai dengan berolahraga, rutin mengevaluasi diri, bahkan untuk membiasakan duduk dengan tegak bisa melatih pengendalian diri. Intinya secara rutin membiasakan diri mengatur atau mengekang keinginan untuk merasakan enak.

Komentar:

Sa’atan wa sa’atan. Ini adalah kalimat yang disampaikan oleh baginda Rasulullah saw, saat beberapa sahabat mengadu kepada beliau. Hal ini diawali oleh salah seorang sahabat yang merasa dirinya telah munafik.

Saat bersama dalam majelis Rasulullah dan sahabat lainnya, ia merasa bahwa surga dan neraka begitu nampak dengan jelas. Sementara, ketika ia kembali bersama keluarga, bersenda gurau bersama mereka, ia lupa akan hal itu.

Maka Baginda Rasulullah saw menyampaikan, “sa’atan wa sa’atan,” maksudnya adalah, ada waktunya untuk larut dalam mereguk nikmat ibadah tapi ada juga waktu untuk bersantai bersama keluarga.

Hal ini kurasa hampir sama dengan prinsip pengendalian diri yang memang tidak bisa diberlakukan di semua waktu. Ada saatnya otot pengendalian diri bisa istirahat.

Ikhlas dan fitrah. Dua hal ini menjadi ciri-ciri dalam Islam. Allah tidak menerima ibadah selain kepadaNya. Tapi karena Dia juga yang menciptakan manusia, ia memberi panduan dalam Islam yang sesuai dengan kondisi manusia.

Contoh yang paling jelas adalah kisah tiga orang yang bertanya kepada Aisyah r.a tentang bagaimana perilaku Baginda Rasul. Maka ia menjawab, “Perilaku Rasulullah adalah Al Qur’an”

Mendengar jawaban ini, maka ketiga orang ini membuat komitmen. Yang pertama akan puasa tidak akan berbuka. Yang kedua akan terus sholat tanpa tidur. Dan yang ketiga akan terus membujang tidak akan menikah. Mereka benar-benar ingin mengikhlaskan hidupnya untuk Allah semata.

Akan tetapi Baginda Rasul menegur mereka. “Aku adalah orang yang paling bertakwa” ujar beliau. “Aku berpuasa, tapi aku juga berbuka. Aku sholat, tapi aku juga tidur. Dan aku juga menikah. Barang siapa tidak suka sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”

Itulah Islam yang diajarkan Rasulullah, mengikhlaskan diri untuk Allah iya. Tapi sekaligus memelihara fitrah manusia yang memang diberikan Allah kepada manusia. Keseimbangan adalah kuncinya.

Rahasia pengendalian diri dari sholat lima waktu. Seringkali kudengar tiap pekan di khutbah Jumat bahwa sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar. Hanya saja tidak pernah ada penjelasan bagaimana sholat itu bisa mencegah dari yang keji dan munkar.

Buku ini memberi gambaran bagaimana sholat yang dilakukan rutin tepat waktu sebenarnya adalah latihan bagi pengendalian diri manusia. Ketika manusia tunduk dengan aturan sholat dan mengendalikan hawa nafsunya, maka sebenarnya dia sedang melatih otot-otot pengendalian dirinya.

 

 

*Tulisan ini berasal dari buku Succeed, Bab Pendahuluan. Aku berazam untuk menerjemahkannya dan membuatnya jadi lebih mudah bagi sampeyan. Di akhir tulisan aku tambahi komentar. Karena bisa jadi ada hal-hal yang kutemukan menarik dan kadang berhubungan dengan hal-hal yang aku temui di buku atau pengalaman hidupku yang lain.

ada banyak hal yang bisa diambil soal membuat tujuan atau goal. Bagaimana tujuan itu bisa memberikan efek semangat dalam jangka panjang , dan bagaimana tujuan bisa membuat kita stres.

Selain itu, buku ini juga banyak mengajarkan bagaimana melaksanakan di dunia nyata hasil-hasil penelitian ilmiah psikologi dalam hal mencapai tujuan.  Wallahu a’lam.

 

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s