Bagaimana Agar Pikiran Sampeyan Membantu Meraih Tujuan?*


gambar diambil dari motivasi-islami.com

Apa yang sampeyan inginkan dalam hidup? Banyak pastinya. Ada yang ingin rumah, mobil, uang, usaha, keluarga yang bahagia dan lain sebagainya. Tapi sudahkah itu direncanakan? Karena bila tidak, berarti itu bukan tujuan, itu hanya angan-angan.

Apapun itu, mengetahui arah yang ingin dituju adalah sesuatu yang penting. Berikut ini beberapa informasi bagaimana cara agar pikiran sampeyan bisa membantu meraih tujuan yang diinginkan.

Jangan Sekedar, “Ingin Melakukan Yang Terbaik”

Di dunia kerja, atasan sering ingin memberikan motivasi kepada staf yang ada di bawahnya. Dan kata-kata motivasi yang diberikan adalah, “Berusahalah yang terbaik”, atau “lakukan yang terbaik.”

Tapi motivasi seperti ini tidak jelas. Tidak bisa dibayangkan. “Memangnya apa yang terbaik yang bisa saya lakukan? Yang terbaik itu seperti apa?”

Orang yang mendapat motivasi seperti ini ternyata tidak kemudian berusaha terbaik yang bisa ia lakukan. Yang terjadi, ia hanya akan berusaha sampai atasannya tidak lagi cerewet tentang pekerjaannya. Dan itu berarti ia hanya bekerja separuh atau bahkan sepertiga hati.

Dari penelitian psikologi, tujuan yang mampu memberikan motivasi adalah yang spesifik dan jelas, bukan yang abstrak dan “ngglambyar.” “Apa sebenarnya yang diharapkan dari saya.” Ini harus jelas tergambar di benak staf.

Tapi tujuan yang baik itu tidak cukup hanya spesifik, tapi juga harus sulit diraih. Ya, bukan berarti tujuan itu mustahil diraih. Tapi kalau tujuan itu terlalu mudah, yang melaksanakannya juga tidak bersemangat.

Gambarannya mungkin seperti orang dewasa yang lomba lari melawan anak TK. Mana ada kepuasan yang dirasakan? Meskipun menang, tidak ada kebanggaan sama sekali yang pantas dikenang.

Begitu juga dalam hidup atau di lingkungan kerja. Bila tujuannya terlalu mudah, orang malah malas meraihnya. Jadi kuncinya adalah yang susah tapi masih mungkin diraih.

Karena dalam penelitian, orang yang pekerjaannya susah, seringkali mendapatkan kepuasan dalam melaksanakannya. Dan orang yang mendapatkan kepuasan kinerjanya sangat bagus.

Kenapa dan Apa?

Sebelum melanjutkan bahasan tentang bagaimana agar pikiran membantu sampeyan mewujudkan tujuan, mari mengisi latihan sebagai berikut.

Jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini dalam buku atau kertas kosong. Tidak ada jawaban benar atau salah atau pilihan yang lebih baik. Pilih saja yang terasa lebih enak terdengar di telinga.

  1. Membuat daftar itu berarti: a. Terorganisir, b. Menulis dengan mengurutkan
  2. Membersihkan rumah berarti: a. Menunjukkan tingkat kebersihan seseorang, b. Menyapu lantai
  3. Membayar sewa rumah berarti: a. Mempertahankan tempat tinggal, b. Menyerahkan uang kepada pemilik rumah
  4. Mengunci pintu berarti: a. Meletakkan anak kunci di lubang kunci, b. Mengamankan rumah
  5. Memberi salam ke orang lain berarti: a. Mengucapkan salam, b. Menunjukkan keakraban

Berapa nilainya? Jumlahkan total nilai dari jawaban pertanyaan di atas dengan aturan sebagai berikut.

1a=2, 1b=1, 2a=2, 2b=1, 3a=2, 3b=1, 4a=1, 4b=2, 5a=1, 5b=2

Bila jawaban sampeyan 6 atau lebih tinggi, berarti sampeyan termasuk orang yang sering berpikir lebih abstrak tentang aktivitas yang sampeyan lakukan. Aktivitas yang sampeyan lakukan selalu berhubungan dengan alasan “kenapa” sampeyan melakukannya.

Jadi ketika sampeyan menyapu lantai, yang ada di otak sampeyan sebenarnya sampeyan ingin membersihkan rumah. Atau dalam bahasa yang lebih mudah, sampeyan menyapu karena sampeyan ingin rumah menjadi bersih.

Sebaliknya, bila nilai sampeyan 5 atau lebih rendah, maka sampeyan berpikir “apa” yang lebih konkrit. Ketika sampeyan menyapu lantai, yang ada di pikiran adalah menggerakkan sapu dan memindahkan debu atau kotoran ke tempat yang lain.

Tidak ada jawaban yang salah atau benar. Tapi tes di atas menunjukkan mana yang lebih dominan dalam pikiran sampeyan, “kenapa” atau “apa”. Dan masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Kita mulai dari “kenapa”. Berpikir seperti ini sisi baiknya membuat orang bersemangat meski aktivitas yang dilakukan kecil. Contoh, ketika harus lembur di malam hari sampai jam 10 malam, sampeyan pasti lebih bersemangat bila lembur dimaknai “langkah untuk mendukung karir.”

Tentu sangat berbeda, bila lembur dimaknai “mengetik laporan selama tiga jam berturut-turut.” Hal ini malah membuat sampeyan malas dan tidak bersemangat.

Lalu apa yang menguntungkan dengan cara berpikir “apa?” Cara berpikir ini bermanfaat ketika sampeyan melakukan aktivitas yang sulit, yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dalam sebuah penelitian, ketika orang diminta melakukan sesuatu yang sulit, seperti makan kacang menggunakan sumpit, tidak pernah terbayangkan pikiran bahwa aktivitas ini adalah “menghilangkan rasa lapar.” Yang terpikirkan adalah “memindahkan makanan dari mangkok ke mulut.”

Ketika orang berpikir tentang “kenapa” aktivitas yang mereka lakukan seolah-olah menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Sementara berpikir “apa” membuat orang merunutkan detil apa yang harus dikerjakan.

Maka strategi yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan dengan cara berpikir yang berbeda ini adalah dengan menggantinya. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang sudah terbiasa, familiar, maka berpikir “kenapa” sangat membantu.

Sedangkan ketika berhadapan dengan hal yang sulit, kompleks dan membutuhkan energi yang besar, cara berpikir “apa” akan memudahkan sampeyan melakukan dan mendapatkan pengalaman.

Sekarang dan Nanti?

Hati-hati, karena cara berpikir “kenapa” dan “apa” sering tertukar ketika berhubungan dengan waktu. Ketika sampeyan melakukan aktivitas di masa depan yang panjang, cenderung cara berpikirnya adalah “kenapa.”

Contoh, bila aktivitasnya adalah pindahan rumah, tapi bila ini dilakukan satu tahun yang akan datang, maka pikiran yang muncul adalah, “memulai hidup baru.”

Sebaliknya, ketika aktivitas yang dilakukan berada di waktu yang pendek, cara berpikirnya adalah “apa”. Contoh, meski aktivitasnya adalah membaca buku, tapi bila waktu menyelesaikannya harus tiga hari lagi, maka, pikiran yang muncul adalah, memulai membaca, hari ini harus sudah di halaman sekian, besok di halaman sekian dan selanjutnya.

Ketika berpikir “kenapa” kita cenderung memunculkan nilai atau manfaat yang bisa kita dapatkan dalam melakukan aktivitas tersebut. Sementara bila berpikir “apa”, kita berpikir tentang kemungkinan apakah aktivitas itu bisa dilakukan atau tidak. Kita tidak berpikir tentang manfaat atau nilai.

Berpikir Positif

Dalam dunia motivasi, berpikir positif sudah umum dijumpai. Tapi tidak semua pikiran positif itu baik. Ada juga pikiran positif yang tidak baik.

Pikiran positif yang baik adalah menanamkan keyakinan bahwa sampeyan bisa meraih tujuan yang diinginkan. Karena bila sampeyan sendiri tidak yakin, maka otak akan otomatis menghilangkannya dari pikiran.

Sementara pikiran positif yang buruk adalah pikiran positif yang meyakini bahwa sampeyan akan dengan mudah mudah meraih tujuan yang ingin diraih.

Ada baiknya pikiran positif yang kedua ini diganti dengan sesuatu yang lebih realistis. Ketika berpikir positif, munculkan kesulitan apa yang mungkin menghadang. Kemudian munculkan apa manfaat yang didapatkan. Lalu munculkan lagi kesulitan yang menghadang. Lalu munculkan manfaat lain lagi.

Terus seperti ini, sehingga otak akan mempersiapkan mental sampeyan ketika menghadapi ujian atau godaan dalam perjalanan meraih tujuan. Berpikir positif itu penting tapi jangan meremehkan. Wallahu a’lam.

gambar diambil dari goodreads

*Artikel ini adalah Bab Pertama, Do You Know You Are Going? dari buku Succeed, How We Can Reach Our Goals, karya Heidi Grant Halvorson, Ph.D. Buku ini tidak menjelaskan tujuan yang baik itu seperti apa, tapi bagaimana cara pikiran atau otak sampeyan bekerja untuk meraih tujuan.

Dengan mengetahui bagaimana pikiran manusia bekerja. Semoga bisa membantu sampeyan dan saya untuk bisa lebih optimal dalam meraih yang tujuan yang kita harapkan.

Komentar.

Pencerahan yang saya pribadi dapatkan dalam buku ini adalah cara berpikir “kenapa” dan “apa”. Bila dari tes di atas, maka saya termasuk orang dengan dominan “kenapa”.

Manfaat dari mengetahui cara berpikir yang dominan sangat besar. Seperti saat ini, ketika mengetik ulang, menerjemahkan, dan segala proses memudahkan, terkadang muncul rasa malas. Dengan memunculkan “kenapa” muncul semangat kembali untuk tetap berkarya.

Sebaliknya, ada hal-hal dalam pekerjaan yang memang bagi saya sendiri masih sulit. Kepribadian yang cenderung introvert seringkali membuat saya tidak nyaman mendapatkan perhatian orang. Tapi dalam pekerjaan ini tidak bisa dihindari.

Maka dengan memunculkan “apa” sedikit banyak bisa mengatasi keengganan. Menebar senyum, banyak menyapa, memberi kartu nama, ngobrol ke sana-sini, bukan sesuatu yang alami, tapi ya, bisa lah.

 

2 thoughts on “Bagaimana Agar Pikiran Sampeyan Membantu Meraih Tujuan?*

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s