Apa yang Seharusnya Jadi Kontribusiku?


Pertanyaan ini menggelayut semalaman di pikiran. Ketika bangun pertanyaannnya sama. Apa kira-kira jawabannya? Padahal, jawabannya ada dan sudah jelas. Mungkin yang jadi menakutkan adalah konsekuensi jawabannya.

Karena ketika sudah menjawab apa kontribusiku, pertanyaannnya bergeser. Sudahkah aku memberi kontribusi hari ini? Dan akhirnya hal-hal yang serius dan terukur harus mulai kukerjakan.

Padahal berjalan santai itu menyenangkan. Tidak ada sesuatu yang "harus". Semua menjadi boleh. Tapi aku tahu semua itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin hidup hanya diisi dengan main-main saja?

Karena diakui atau tidak, aku punya waktu. Dan bila waktu itu sudah habis, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Mati itu pasti. Lalu apa yang terbaik yang bisa kulakukan sebelum mati? Apa kontribusiku?

Pernahkah kau juga bertanya tentang kontribusimu kawan? Pernahkah kau tahu apa hal terbaik dari dirimu? Semoga kau tidak sedang sekedar menghabiskan waktu.

Ah, tulisan ini mengerikan. Ketika kubaca lagi dari awal jadi semakin takut aku jadinya. Takut kehilangan yang menyenangkan, takut melakukan sesuatu yang hanya untuk bersenang-senang.

Dan semua pertanyaan ini berasal ketika aku berkumpul dengan orang-orang sholeh. Mereka berdiskusi dengan semangat tentang kontribusi yang sedang mereka berikan. Mereka tidak sadar, bahwa obrolan mereka membuatku harus berpikir. "Nas, apa kontribusimu?"

Bagaimana menurutmu kawan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s